TOMBASIAN ATAS, Kawangkoan Barat – Tidak banyak pemimpin yang mengawali perjalanan pengabdiannya dari ruang kelas dan menutup masa tugasnya dengan jejak prestasi yang membanggakan. Lebih sedikit lagi yang memilih kembali mengabdikan diri kepada masyarakat setelah memasuki masa purnabakti. Sosok itu hadir dalam diri John F. Koampa, S.Pd, Calon Hukum Tua Desa Tombasian Atas Nomor Urut 3.
Selama puluhan tahun, John Koampa dikenal sebagai figur pendidik yang membentuk karakter generasi muda melalui dedikasi, keteladanan, dan disiplin. Pengabdiannya selama kurang lebih 37 tahun sebagai guru SMP, serta kepercayaan yang diembannya selama 17 tahun sebagai Kepala SMP Negeri 6 Kawangkoan, menjadi bukti konsistensinya dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas.
Kini, setelah menuntaskan tugas mulianya di dunia pendidikan, ia memilih melanjutkan pengabdian di tengah masyarakat melalui panggilan untuk memimpin Desa Tombasian Atas. Langkah ini bukan sekadar perpindahan profesi, melainkan kelanjutan dari komitmen panjang untuk melayani, membimbing, dan menghadirkan perubahan yang berdampak bagi banyak orang.
Mengusung visi “Desa Tombasian Atas yang Maju, Mandiri, Aman, Sejahtera, dan Berkeadilan,” John Koampa menawarkan arah pembangunan yang bertumpu pada tata kelola pemerintahan yang bersih, pembangunan yang berkelanjutan, serta pemberdayaan masyarakat yang inklusif.
Baginya, kemajuan sebuah desa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik semata, tetapi juga dari kualitas pelayanan publik, kesejahteraan warga, serta kuatnya nilai persatuan dan kebersamaan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.
Untuk mewujudkan visi tersebut, John Koampa menempatkan reformasi tata kelola pemerintahan desa sebagai fondasi utama. Pemerintahan yang jujur, transparan, adil, dan berwibawa diyakini menjadi kunci untuk membangun kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan setiap program pembangunan berjalan tepat sasaran dan memberi manfaat nyata bagi warga.
Di bidang ekonomi, ia menaruh perhatian besar pada penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai instrumen strategis dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Dengan pengelolaan yang profesional, efektif, dan akuntabel, BUMDes diharapkan mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi desa, membuka peluang usaha baru, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Sementara itu, sektor pembangunan infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan juga menjadi prioritas penting dalam gagasan kepemimpinannya. Menurutnya, kualitas hidup masyarakat hanya dapat ditingkatkan melalui akses yang semakin baik terhadap sarana dan prasarana publik yang memadai serta pelayanan dasar yang berkualitas.
Tidak kalah penting, John Koampa menempatkan kerukunan dan harmoni sosial sebagai modal utama pembangunan. Di tengah keberagaman yang ada, ia berkomitmen untuk terus merawat persaudaraan, memperkuat toleransi, dan membangun kehidupan masyarakat yang rukun antar denominasi gereja serta seluruh elemen masyarakat tanpa membedakan latar belakang.
Di luar dunia pendidikan, John Koampa juga dikenal sebagai seorang pelukis. Kecintaannya terhadap seni telah membentuk kepekaan sosial, kreativitas, serta cara pandang yang humanis dalam melihat berbagai persoalan masyarakat. Perpaduan antara pengalaman sebagai pendidik dan jiwa seni yang dimilikinya menghadirkan karakter kepemimpinan yang tidak hanya tegas dan terukur, tetapi juga bijaksana serta dekat dengan masyarakat.
Bagi banyak warga Tombasian Atas, sosok John Koampa bukanlah nama baru. Ia telah lama hadir sebagai bagian dari perjalanan kehidupan masyarakat, mendidik generasi muda, membimbing mereka menuju masa depan, dan menjadi teladan dalam berbagai aspek kehidupan.
Kini, melalui momentum Pemilihan Hukum Tua, John F. Koampa membawa semangat baru untuk melanjutkan pengabdian tersebut. Dengan pengalaman, integritas, dan komitmen yang telah teruji, ia mengajak seluruh masyarakat Tombasian Atas untuk bersama-sama membangun desa yang lebih maju, mandiri, aman, sejahtera, dan berkeadilan.
Sebuah perjalanan pengabdian yang bermula dari ruang pendidikan, kini berlanjut menuju balai desa. Sebuah langkah yang lahir dari keyakinan bahwa kepemimpinan sejati bukanlah tentang jabatan, melainkan tentang kesediaan untuk terus melayani dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat.(Mey)












