Minahasa — Polemik pembangunan objek wisata paralayang di Desa Agotey, Kecamatan Mandolang, kian memanas. Video penolakan warga yang beredar luas di media sosial memicu gelombang reaksi dan memperuncing perdebatan di tengah masyarakat.
Di satu sisi, warga menyuarakan kekhawatiran terhadap dampak lingkungan. Namun di sisi lain, pemilik lahan justru menilai banyak informasi yang beredar tidak sesuai fakta.
Pengusaha nasional Wenny Lumentut, melalui perwakilannya Meiky Kodoati, secara tegas membantah berbagai tudingan yang menyebut lokasi pembangunan berada di kawasan hutan lindung.
“Jangan menyebarkan informasi yang tidak benar. Ini tanah perkebunan sah, bersertifikat, dan sudah kami miliki sekitar 25 tahun,” tegasnya.
Pihaknya bahkan membuka dokumen legalitas sebagai bentuk transparansi, mulai dari Sertifikat Hak Milik (SHM), data koordinat resmi dari Badan Pertanahan Nasional (BPN), hingga rencana pengembangan lahan yang diklaim berbasis pertanian produktif.
Isu lain yang tak kalah panas adalah soal ancaman terhadap sumber air warga. Namun, WL kembali membantah keras.
“Air warga Koha Timur berasal dari Sungai Tateli, bukan dari lokasi ini. Secara geografis sangat jauh dan tidak berkaitan,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa arah kontur tanah menuju Agotey Lemoh, sehingga tidak berdampak pada wilayah yang dikhawatirkan.
Fakta lain yang diungkap, dari total 55 hektare lahan, hanya sekitar 5 hektare yang akan digunakan. Rinciannya, 1,5 hektare untuk paralayang dan 3,5 hektare untuk penanaman sekitar 2.000 pohon durian, 2.000 pohon kopi, serta cengkih.
Sementara itu, sekitar 50 hektare lainnya disebut akan tetap dipertahankan dalam kondisi alami tanpa penebangan pohon.
Namun di tengah memanasnya situasi, langkah mengejutkan justru diambil. Pihak pemilik lahan memutuskan menghentikan sementara seluruh aktivitas pembangunan.
Keputusan ini disebut sebagai bentuk penghormatan terhadap proses pemilihan Hukum Tua di wilayah Koha Raya.
Meski begitu, keputusan tersebut tidak serta-merta meredam polemik. Pro dan kontra terus bergulir, bahkan memunculkan pertanyaan besar di publik: apakah proyek ini akan dilanjutkan atau justru berhenti di tengah jalan?
Situasi di Agotey kini menjadi sorotan, menunggu bagaimana akhir dari tarik-menarik kepentingan antara investasi dan kekhawatiran warga.
Beranda
HOME
Minahasa
Viral Penolakan Paralayang Agotey, Pemilik Lahan Buka Suara: “Ini Tanah Sah, Bukan Hutan Lindung!”
Viral Penolakan Paralayang Agotey, Pemilik Lahan Buka Suara: “Ini Tanah Sah, Bukan Hutan Lindung!”













